Kamis, 15 Juli 2010

Facebooker & Pembaca Blog Paling Aktif adalah Gay dan Lesbian ?


Penyuka sesama jenis, entah gay atau lesbi, ternyata merupakan pembaca blog yang aktif ketimbang orang-orang heteroseksual. Bahkan mereka lebih mudah bergabung menjadi anggota jejaring sosial.


sebuah survei yang dilakukan oleh Harris Interactive menemukan jika 54 persen dari total responden yang mengaku gay dan lesbi adalah pembaca blog, dibanding responden heteroseksual yang hanya 40 persen saja yang mengaku pembaca blog aktif.

Survei nasional Harris Interactive melibatkan 2.412 orang dewasa di AS. 271 orang di antaranya mengidentifikasi diri sebagai gay atau lesbian. 

Tiga puluh enam persen dari kaum gay dan lesbian yang disurvei mengatakan mereka membaca berita dan peristiwa dari blog, sedangkan orang dewasa heteroseksual yang melakukan hal tersebut hanya 25 persen.

Dua puluh lima persen dari gay dan lesbian mengatakan mereka membaca hiburan dan budaya pop dari blog dibandingkan dengan 16 persen dari heteroseksual. Sedangkan 22 persen mengatakan mereka membaca blog politik dibandingkan dengan hanya 14 persen dari heteroseksual yang membaca berita politik di blog. 
Blog terkait wisata dan travel juga lebih populer di kalangan kaum gay dan lesbian, dimana sekira 16 persen dari mereka mengaku menjadi pembaca setia blog travel, ketimbang heteroseksual yang hanya delapan persen.

Sebanyak 73 persen dari gay dan lesbian mengatakan mereka adalah anggota Facebook, dibandingkan dengan 65 persen dari heteroseksual. Sedangkan gay yang memiliki akun MySpace hanya 32 persen dibandingkan 22 persen yang heteroseksual. Gay dan lesbian juga milik akun LinkedIn dalam jumlah yang lebih besar dari rekan-rekan heteroseksual mereka, masing-masing 22 persen dan 16 persen.

Dalam survei yang sama, sekira 29 persen dari kaum gay dan lesbian mengatakan mereka menggunakan layanan mikroblogging Twitter dibandingkan dengan 15 persen responden heteroseksual.

Bahkan, 50 persen dari kaum gay dan lesbian mengatakan mereka mengunjungi situs jaringan sosial sedikitnya sekali sehari dibandingkan dengan 41 persen responden heteroseksual

27 Juta Tahun Sekali, Bumi Musnah


Seluruh kehidupan di bumi memang tidak kekal. Namun para ilmuwan percaya, malapetaka yang mampu memusnahkan semua kehidupan di bumi terjadi setiap 27 juta tahun sekali.

"Setidaknya, dalam kurun 500 juta tahun terakhir, telah terjadi ledakan yang menyebabkan kepunahan setiap 27 juta tahun," ujar Richard Bambach, seorang paleontologis dari Smithsonian Institute, yang didampingi rekannya, Adrian Melott, seorang astrofisikawan dari University of Kansas.

Periodik kepunahan massal telah diungkapkan sebelumnya, dan mereka mengatakan jika saat itu Matahari terlihat sangat besar, dan planet kegelapan mengorbit setiap 27 juta tahun, lalu menghadirkan hujan komet keluar dari awan Oort menuju pinggiran sistem tata surya dan mengirimkan komet-komet itu hingga menabrak Bumi. Hipotesis ini disebut 'Nemesis'.

Tapi keteraturan skala waktu kepunahan yang dipaparkan kedua ilmuwan ini dianggap berlebihan. Waktu 500 juta tahun telah ditelaah lebih jauh oleh Dr Melott dan Dr Bambach dan mencapai hampir dua kali lipat dibanding penelitian sebelumnya.

Hal ini dikarenakan dalam 500 juta tahun terakhir, Matahari berada cukup dekat dengan objek lainnya, bintang yang dikenal. Tarikan gravitasi dari bintang-bintang ini akan mempengaruhi orbit Nemesis dan menyebabkan kehilangan siklus regular 27 juta tahun.

Kepunahan yang dimaksud dapat berupa bencana dan malapetaka, memusnahkan mayoritas spesies di bumi, dari yang kecil hingga yang besar, dan lebih dulu menghancurkan 10 persen spesien yang ada secara bertahap. Artinya, bencana itu akan datang secara bertahap dan memusnahkan mulai dari 10 juta tahun kedua hingga mencapai 27 juta tahun dari kepunahan massal sebelumnya.

Namun, para ilmuwan mengatakan jika hal itu bukanlah hal yang harus dikhawatirkan saat ini, apalagi disikapi dengan kepanikan. Pasalnya, kepunahan massal yang terjadi sebelumnya telah berlangsung 10 juta tahun lalu sehingga masih banyak waktu untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi lagi.